Monday, November 30, 2009

Kekosongan

Tak ada merupakan puncak titik nadir dari segala bentuk kepasrahan. Benar mungkin adanya namun sebenarnya tidak ada. Keberadaan seolah menjadi kebutuhan layaknya seutas tali tak bersimpul, terlihat jelas namun samar. Begitupun hati kita, kadang menyadari keinginan tapi tak menyadari ketidakinginan. Seperti drum tak berstik atau gitar tak berdawai, hati kita seakan kosong.

Pandanganku saat ini menatap nanar, hampa tak mengandung perasaan. Entah harus memikirkan apa atau siapa. Yang terlihat olehku hanyalah gumpalan-gumpalan awan yang berarak di langit biru. Gerakannya lembut dan mengalir, membuatku terbawa ke alam bawah sadarku. Kekosongan yang kian menghampa kini terisi oleh lebih banyak kekosongan. Tak ada yang perlu mengerti tentang perasaanku. Aku pun tak mengerti tentang perasaanku. Yang pasti pusaran ketidak adaan itu semakin menghisapku ke dalam lubang ketenangan. Tempat dimana tak ada lagi yang perlu diresahkan. Sesaat aku merasakan telah menemukan apa yang selama ini kucari. Sesaat kemudian waktu yang sesaat itu menjadi terasa sesat. Apa yang kucari selama ini bukanlah sesuatu yang dapat dicari. Jika aku berhasil mendapatkannya sudah jelas aku belum mendapatkannya. Tak ada yang bisa memastikan. Kenyataan ini seperti rangkaian puzzle. Seharusnya mudah, karena dapat dimulai dari setiap sudut yang terlihat di depan mata. Tapi dunia ini tak bersudut. Harus kumulai darimana? Kekosongan ini….seakan tak berawal dan tak berakhir…



Read More......

Wednesday, September 9, 2009

Impian Gila

Malam hari yang dingin. Aku berada di lapangan rumput yang terbentang luas beratapkan langit berbintang. Saat itu ku duduk termenung sendirian memandang bintang-bintang. Pemandangan indah ini entah kapan dapat kunikmati untuk kedua kalinya. Mungkin tak akan pernah. Suara jangkrik, hembusan angin malam, dan wangi rumput membiusku seakan masalah duniawi tak pernah ada.

Perlahan kurebahkan tubuhku di atas tumpukan rumput hijau yang terlihat biru seiring gelapnya malam. Bintang-bintang itu semakin jelas tapi juga semakin tidak jelas. Aku tak mengerti apa yang dapat menjelaskannya. Bintang-bintang itu tak berubah. Sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Tetap bersinar menemani gelapnya malam dan tetap tak terhitung banyaknya. Aku pun tersentak. Semua bintang itu seakan merefleksikan mimpi-mimpiku. Mimpi yang kupercaya ada dan akan kuraih suatu saat nanti. Mimpi yang tak dimiliki oleh siapapun. Mimpi yang akan selalu melahirkan mimpi-mimpi lainnya. Mimpi yang membuat orang lain berfikir bahwa aku sudah gila. Ya, mimpi yang membuatku gila. Tapi mimpi-lah yang membuatku memutuskan untuk terus menjalani hidup. Sekalipun untuk itu harus kubayar dengan kegilaan.


Impian yang nyata bukanlah mimpi. Mimpi adalah sesuatu yang tak bisa kita raih sebesar apapun usaha kita meraihnya. Mimpi itu akan selalu ada selama kita masih mempercayainya. Aku juga, mungkin tak akan pernah dapat meraih impianku. Setiap kali aku mendekatinya, impian itu semakin menjauh, semakin tinggi meninggalkanku. Impian bukanlah benda mati. Mereka hidup dalam hati kita. Semakin tumbuh dan berkembang, membesar, terbang tinggi seiring dengan helai demi helai sayap yang kita tanamkan bersama dilema kepercayaan dan kenyataan. Dua hal yang berjalan seperti garis pararel, selalu berdampingan namun tidak pernah bertemu. Impian manusia tak akan pernah berakhir. Aku tahu itu, tapi aku tidak menyesal. Aku hidup dengan mimpi-mimpiku.dan tak akan kubiarkan siapapun atau apapun menghancurkannya. Dan seperti bintang di langit, suatu saat aku akan bersinar.

Read More......

Tuesday, September 8, 2009

Aku dan Tulisanku

Lagi senang menulis. Bukan sekedar novel picisan yang terlahir dari khayalan yang berada di awang-awang tapi lebih malai dari itu, tulisan-tulisan abstrak yang mengalir dari buah pemikiran yang imatur. Wajar kalau muncul kontroversi dari tiap huruf yang keluar dari aliran sungai perenungan yang tak berhulu. Tapi aku tidak peduli, bisikan malaikat ataupun hasutan setan tidak akan mengubah tiap huruf, frase maupun jeda yang kutulis, yang tertulis, dan yang akan kutulis. Ini seperti membiarkan segenggam harapan tertumpah di atas selembar kertas. Harapan palsu, harapan kosong, dan harapan penuh tekad terpatri dalam setiap tulisanku. Berbaur dengan kekosongan hati yang haus akan rasa lapar atas sajian kejujuran berbalut kesahajaan.

Kenangan demi kenangan menjadi mesiu di tengah ketenangan yang terlahir dari perdamaian masa kini dan kebimbangan masa depan. Semua yang sudah pernah melihat tulisan tanganku sependapat setidaknya bagi mereka yang jujur bahwa tulisanku jelek. Sebagian lagi tidak berbohong tapi tidak juga berpendapat dan hanya memikirkan perasaanku. Asal tahu saja, aku tidak butuh hal yang merepotkan seperti basa-basi para petinggi, senyum manis rekaan trainer, maupun rasa simpati berlebihan yang tidak beralasan. Make it easy, take it easy. Untuk apa mempersulit kesulitan, bukannya bersyukur atas kesederhanaan dari anugerah kemudahan yang diberikan Tuhan. Hidup ini sederhana sesederhana tulisanku yang mencerminkan betapa dangkalnya pemikiranku. Terlalu dangkal untuk orang jenius yang berpikiran jauh menyelam ke dalam samudera yang luas. Padahal pada hakikatnya samudera itu tidak akan dinamai samudera bila tidak ada genangan air.

Aku hanyalah permukaan dan tulisanku hanyalah genangan. Lihat apa yang terpantul dari perpaduan diriku dan tulisanku. Jika kau punya cermin yang bersih mengkilat gunakanlah itu untuk berkaca mengagumi keindahan dirimu. Jika kau tidak punya kekuatan untuk menghartakan dirimu berceminlah pada permukaan genangan air yang kotor. Kau akan menemukan dirimu seakan mutiara di tengah kubangan lumpur. Hanya perlu sedikit kesadaran dan lebih sedikit keinginan bahkan hampir tidak ada kemauan. Itu sudah lebih dari cukup untuk membekali diri menjelajah hutan belantara dari tulisan-tulisan antah berantah-ku yang kian abstrak.

Read More......

Monday, September 7, 2009

Air mata

Air mata adalah setetes air dari hati yang tak lebih dari sekedar tumpahan perasaan. Perasaan yang selama ini terpendam dalam lumpur keputusasaan. Keputusasaan yang menyisakan harapan. Dan harapan yang tergerus oleh waktu. Waktu itu, air mata adalah penyejuk di tengah gersangnya hati, pelembut bagi jiwa-jiwa yang membatu.

Air mata yang tak sengaja menetes mungkin adalah tanda ketulusan mungkin juga bukan. Bukanlah hal yang sepantasnya untuk membatasi air mata. Air mata tidak memberi jaminan keikhlasan namun menjadi ukuran derasnya permasalahan yang menerpa. Menerpa tidak seperti angin yang menghempaskan sebatang pohon. Pohon yang berdiri kokoh pun suatu saat akan tumbang seiring berjalannya waktu. Waktu yang berlalu seiring jatuhnya air mata adalah waktu yang tak pernah bisa terbeli oleh apapun. Apapun yang ada di dunia ini sebenarnya hanyalah cerminan dari bayangan yang terpantul dari tetesan air mata.

Air mata tak selamanya menyedihkan dan hujan tak selamanya menyuburkan. Menyuburkan kebun jiwa bersama teriknya permasalahan adalah sebuah kenikmatan yang tak akan pernah terbayangkan. Bayangkan bau rumput, birunya langit, semilir angina, dan rindangnya pepohonan. Pepohonan hati kita, setinggi apapun, tak akan pernah menjangkau birunya langit keikhlasan tanpa disiram oleh air mata.

Read More......

Wednesday, September 2, 2009

Topeng

Aku benci mengatakannya tapi memang…kau dulu sahabatku. Aku tertawa saat kau tertawa, aku menangis saat kau menangis, bahkan aku sakit saat kau sakit. Kau pun sebaliknya…Saat-saat itu seharusnya menjadi kenangan yang indah, atau setidaknya menjadi masa lalu yang membuatku tersenyum saat mengingatnya. Diriku yang tertutup bertolak belakang dengan dirimu yang sanguinis dan memiliki banyak teman. Kau disenangi oleh banyak orang karena keceriaanmu, kekonyolanmu. Kau dipercaya oleh orang-orang jauh melebihi kepercayaan orang-orang kepadaku. Melalui dirimu lah aku mengenal banyak orang. Orang lain disekelilingku mulai mempercayaiku karena mereka mempercayaimu. Aku yang kaku pun perlahan mulai membuka hatiku untuk sebuah persahabatan. Persahabatan yang kuharap selamanya.

Saat aku sendirian teman-teman pasti menanyakan dirimu. Tentang kenapa aku tidak bersamamu, kabar tentangmu, dan segala hal tentangmu. Siapapun yang mendengarnya pasti tahu bahwa kau orang yang sangat disenangi. Ketika satu hari saja kau tidak masuk kelas, seisi sekolah seakan mempertanyakan dirimu. Orang-orang akan merasa kehilangan saat kau tak ada dan tak akan merasa kehilangan saat aku tak ada. Aku banyak belajar darimu tentang membuka dirimu, tersenyum, tertawa, menangis. Aku yang dulu tidak pernah tahu bagaimana mengekspresikan kebahagiaan ataupun kesedihan, menangis ataupun tertawa. Kau lah yang mengajarkanku entah bagaimana caranya, aku pun tidak tahu.

Sekali lagi…aku benci untuk menulis semua ini. Seolah dengan tulisan ini aku meninggikanmu atau sebaliknya merendahkanmu. Asal kau tahu, aku bukan menulis tentangmu, aku hanya menulis kejujuran, sesuatu yang kupercaya akan memelihara ku dari kebohongan dan kepalsuan dunia.

Aku tak akan menuliskan pengkhianatanmu, bagaimana kau mengkhianatiku, atau alasanmu mengkhianatiku. Aku menulis dari sisi ku yang kini sebagai mantan sahabatmu. Bukannya aku manja….aku pun sering dikhianati oleh orang lain. Tapi kali ini berbeda. Pengkhianatanmu bahkan tidak memberiku waktu untuk berfikir tentang memaafkan. Segalanya berjalan begitu cepat, seakan hari yang kelam itu tidak pernah ada. Kalau perbuatanmu masih bisa kutolerir mungkin aku akan merasa sebagian adalah kesalahan ku karena melihat apa yang seharusnya tidak dilihat dan mendengar apa yang seharusnya tidak kudengar. Tapi aku tidak menemukan celah dimana aku dapat menempatkan sebutir toleransi. Semua terjadi begitu saja…kau telah mengambil masa laluku, tidak hanya masa laluku bersamamu tapi juga masa laluku bersama teman2 ku.

Saat aku mencari pembenaran tak ada seorang pun yang membenarkan. Kau selalu mendapat kepercayaan lebih dari orang-orang di sekitarmu bahkan orang –orang di sekelilingku. Seolah aku yang bersalah atas dirimu, aku yang membuatmu murung dan aku yang membuatmu sedih. Aku tidak bisa sepertimu yang dapat menyembunyikan diri di balik topeng. Saat aku merasa tidak senang maka raut muka ku menunjukkan ketidak senanganku. Saat aku sedih aku tidak mampu memaksa bibirku membentuk simpul senyuman seperti yang kau pajang di topengmu. Aku selalu menjadi orang yang kalah, selalu terpojok, sendiri. Kini pandanganku berubah tentangmu. Aku merasa jijik saat kau tersenyum dan membuat lelucon seakan tidak ada apapun yang terjadi. Kau membalut semuanya dengan manis. Aku pun tidak berusaha membongkar rahasiamu, sebuah rahasia yang ku yakin akan mengubah hidupmu selamanya bila dunia tahu. Walaupun kini aku membencimu rupanya aku masih menyisakan sedikit kebaikan untukmu. Namun yang sedikit itu memerlukan pengiorbanan yang tidak sedikit. Menyimpan rahasia ini membuatku seakan menanggung dunia ini di atas bahuku yang kecil. Walaupun aku sudah bukan sahabatmu aku masih rela mengorbankan kepercayaan orang kepadaku demi kepercayaan orang lain padamu, bahkan mengorbankan masa lalu dan sebagian kebahagiaan hidupku untuk menanggung rahasia kecilmu.

Kini setelah lama sekali tidak ada kabar, kau datang padaku. Apalagi? Apalagi yang kau ingin ambil dariku?? Kau ingin minta maaf sambil berurai air mata?? Salah besar kalau kau pikir aku tidak memaafkanmu. Kau pikir kau orang istimewa sehingga aku tidak memaafkanmu? Asal kau tahu, banyak perlakuan tidak adil terhadapku akibat kepiawaianmu melakonkan peran. Dan aku tidak pernah menyalahkan mereka yang terlihat pintar dan bijaksana namun tidak tahu apa-apa itu atas perlakuannya padaku. Kalau aku tidak bisa memaafkan bahkan untuk orang seperti dirimu, tak akan ada bedanya diriku dengan kebanyakan manusia dan tak adakan ada gunanya lagi aku hidup sebab pintu surga akan tertutup bagiku. Kalau kau menanyakan apa yang membuatku merasa lebih baik…aku hanya ingin kau pergi dari kehidupanku, menghilang dari ingatanku…..

Read More......

Tuesday, February 17, 2009

Tulisan ini Kutulis untuk Diriku

Tulisan ini kutulis untuk diriku. Menegurku. Mengingatkanku. Menghentikanku sejenak dari kesibukan duniawi. Aku yang dulu, aku yang sekarang, dan aku yang nanti. Karena sesungguhnya iman itu suatu saat akan lusuh seperti lusuhnya sehelai kain. Hari demi hari berlalu seiring grafik keimanan yang merosot. Hingga tiba di suatu titik. Titik dimana tak ada lagi titik setelahnya. Mungkin akupun suatu saat akan berada di titik itu. Di saat itu hatiku telah membatu, apapun yang kamu sampaikan, baik atau buruk tak lagi berarti buatku. Aku sedang menikmati segala yang dapat dinikmati di dunia ini. Karenanya selantang apapun kalian menyeru, meminta, bahkan memohon, takkan pernah dahi ini menyentuh bumi untuk bersujud pada-Nya.

Sekarang aku mungkin teman kalian, senasib seperjuangan, atau paling tidak aku tidak mengusik kalian dalam menyeru pada kebaikan. Hingga suatu saat, segalanya berubah, dengan pemahaman keislaman yang kumiliki aku menentang habis-habisan segala nilai keislaman selayaknya perempuan berjilbab yang mengaku Islam, shalat, puasa, bahkan tahajud, namun menentang diberlakukannya RUU APP. Kalian pikir, mengapa aku berbuat demikian? Atau pertanyaan yang lebih mendasar, apa yang membuat aku berpikir untuk berbuat demikian? Sampai pertanyaan itu hinggap di benak dan terlontar dari mulut kalian, aku sudah memiliki jawaban jauh sebelum muncul pertanyaan. Apakah kalian pernah menasehatiku di saat aku berbuat salah? Apakah kalian pernah mengingatkanku ketika aku khilaf? Mengapa kalian melebih-lebihkan pujian kalian atas kelebihanku?

Bahagianya diri ini jika diperlakukan secara proporsional, kelebihan membuat diri dihargai, kekurangan membuat orang lain bantu menasehati.

Read More......

Secarik cinta

Cinta laksana cinta. Tak dapat dijelaskan bukan masalah, namun bermasalah jika dijelaskan. Tak ada yang setuju bahwa cinta itu menyakitkan. Namun kenyataannya demikian. Cinta membutuhkan resiko, bahkan untuk resiko yang terkecil sekalipun.

Membara di hutan membakar segala. Itukah cinta? Mungkin ya mungkin tidak. Rasanya sulit memisahkan cinta dan pengorbanan. Bahkan pada titik dimana kita terpaksa mengorbankan orang lain. Tak perlu menafikan keegoisan diri untuk dapat tidak memahami cinta. Cinta itu membingungkan dengan segala yang membingungkan. Labirin di dalam labirin.

Apapun makna cinta, semoga kita tidak menjadi orang yang dibutakan hatinya karena cinta.

Read More......