Aku benci mengatakannya tapi memang…kau dulu sahabatku. Aku tertawa saat kau tertawa, aku menangis saat kau menangis, bahkan aku sakit saat kau sakit. Kau pun sebaliknya…Saat-saat itu seharusnya menjadi kenangan yang indah, atau setidaknya menjadi masa lalu yang membuatku tersenyum saat mengingatnya. Diriku yang tertutup bertolak belakang dengan dirimu yang sanguinis dan memiliki banyak teman. Kau disenangi oleh banyak orang karena keceriaanmu, kekonyolanmu. Kau dipercaya oleh orang-orang jauh melebihi kepercayaan orang-orang kepadaku. Melalui dirimu lah aku mengenal banyak orang. Orang lain disekelilingku mulai mempercayaiku karena mereka mempercayaimu. Aku yang kaku pun perlahan mulai membuka hatiku untuk sebuah persahabatan. Persahabatan yang kuharap selamanya.
Saat aku sendirian teman-teman pasti menanyakan dirimu. Tentang kenapa aku tidak bersamamu, kabar tentangmu, dan segala hal tentangmu. Siapapun yang mendengarnya pasti tahu bahwa kau orang yang sangat disenangi. Ketika satu hari saja kau tidak masuk kelas, seisi sekolah seakan mempertanyakan dirimu. Orang-orang akan merasa kehilangan saat kau tak ada dan tak akan merasa kehilangan saat aku tak ada. Aku banyak belajar darimu tentang membuka dirimu, tersenyum, tertawa, menangis. Aku yang dulu tidak pernah tahu bagaimana mengekspresikan kebahagiaan ataupun kesedihan, menangis ataupun tertawa. Kau lah yang mengajarkanku entah bagaimana caranya, aku pun tidak tahu.
Sekali lagi…aku benci untuk menulis semua ini. Seolah dengan tulisan ini aku meninggikanmu atau sebaliknya merendahkanmu. Asal kau tahu, aku bukan menulis tentangmu, aku hanya menulis kejujuran, sesuatu yang kupercaya akan memelihara ku dari kebohongan dan kepalsuan dunia.
Aku tak akan menuliskan pengkhianatanmu, bagaimana kau mengkhianatiku, atau alasanmu mengkhianatiku. Aku menulis dari sisi ku yang kini sebagai mantan sahabatmu. Bukannya aku manja….aku pun sering dikhianati oleh orang lain. Tapi kali ini berbeda. Pengkhianatanmu bahkan tidak memberiku waktu untuk berfikir tentang memaafkan. Segalanya berjalan begitu cepat, seakan hari yang kelam itu tidak pernah ada. Kalau perbuatanmu masih bisa kutolerir mungkin aku akan merasa sebagian adalah kesalahan ku karena melihat apa yang seharusnya tidak dilihat dan mendengar apa yang seharusnya tidak kudengar. Tapi aku tidak menemukan celah dimana aku dapat menempatkan sebutir toleransi. Semua terjadi begitu saja…kau telah mengambil masa laluku, tidak hanya masa laluku bersamamu tapi juga masa laluku bersama teman2 ku.
Saat aku mencari pembenaran tak ada seorang pun yang membenarkan. Kau selalu mendapat kepercayaan lebih dari orang-orang di sekitarmu bahkan orang –orang di sekelilingku. Seolah aku yang bersalah atas dirimu, aku yang membuatmu murung dan aku yang membuatmu sedih. Aku tidak bisa sepertimu yang dapat menyembunyikan diri di balik topeng. Saat aku merasa tidak senang maka raut muka ku menunjukkan ketidak senanganku. Saat aku sedih aku tidak mampu memaksa bibirku membentuk simpul senyuman seperti yang kau pajang di topengmu. Aku selalu menjadi orang yang kalah, selalu terpojok, sendiri. Kini pandanganku berubah tentangmu. Aku merasa jijik saat kau tersenyum dan membuat lelucon seakan tidak ada apapun yang terjadi. Kau membalut semuanya dengan manis. Aku pun tidak berusaha membongkar rahasiamu, sebuah rahasia yang ku yakin akan mengubah hidupmu selamanya bila dunia tahu. Walaupun kini aku membencimu rupanya aku masih menyisakan sedikit kebaikan untukmu. Namun yang sedikit itu memerlukan pengiorbanan yang tidak sedikit. Menyimpan rahasia ini membuatku seakan menanggung dunia ini di atas bahuku yang kecil. Walaupun aku sudah bukan sahabatmu aku masih rela mengorbankan kepercayaan orang kepadaku demi kepercayaan orang lain padamu, bahkan mengorbankan masa lalu dan sebagian kebahagiaan hidupku untuk menanggung rahasia kecilmu.
Kini setelah lama sekali tidak ada kabar, kau datang padaku. Apalagi? Apalagi yang kau ingin ambil dariku?? Kau ingin minta maaf sambil berurai air mata?? Salah besar kalau kau pikir aku tidak memaafkanmu. Kau pikir kau orang istimewa sehingga aku tidak memaafkanmu? Asal kau tahu, banyak perlakuan tidak adil terhadapku akibat kepiawaianmu melakonkan peran. Dan aku tidak pernah menyalahkan mereka yang terlihat pintar dan bijaksana namun tidak tahu apa-apa itu atas perlakuannya padaku. Kalau aku tidak bisa memaafkan bahkan untuk orang seperti dirimu, tak akan ada bedanya diriku dengan kebanyakan manusia dan tak adakan ada gunanya lagi aku hidup sebab pintu surga akan tertutup bagiku. Kalau kau menanyakan apa yang membuatku merasa lebih baik…aku hanya ingin kau pergi dari kehidupanku, menghilang dari ingatanku…..
Wednesday, September 2, 2009
Topeng
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




Sobat... rangkaian kisahmu terukir begitu mengalir dalam. Apa yg kamu alami, pernha juga ku alami (jika kisahmu ini beneran terjadi)
ReplyDeleteThanks for sharing, ternyata, kita ga sendirian. Ga sendirian mengalami hal spt itu... keep struggling
beuh.....
ReplyDeletedalem bangetz nhe kak ceritanya....
ternyata bukan aku aja...
ternyata masih ada yang mengalami penghiatan...
aku suka bangetz cerita" nya....
lanjutkan!! *sby mode on*
memang sulit untuk menerima seperti sediakala, kalo aku boleh saran, bukalah sedikit hatimu untuk mencoba berinteraksi kembali dengan dia atau mereka (pacarmu atau sahabatmu), semoga hati kalian akan menjadi terbuka dan menghilangkan rasa kesal dalam hari..
ReplyDeleteKadang kesalahan tidak sepenuhnya dari orang yang bersalah namun kita punya sedikit andil di dalamnya.
Silahkan jika berharga untuk direnungkan.
Mohon maaf kalau ada saran yang salah..