<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396</id><updated>2011-08-21T13:45:15.571-07:00</updated><category term='memorize'/><title type='text'>HF in Memory</title><subtitle type='html'>Api yang tak membakar maupun air yang tak membasahi, merupakan renungan yang tak perlu direnungi dengan hati nurani.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396.post-1690357124179189289</id><published>2009-11-30T06:57:00.000-08:00</published><updated>2009-11-30T06:58:56.456-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memorize'/><title type='text'>Kekosongan</title><content type='html'>Tak ada merupakan puncak titik nadir dari segala bentuk kepasrahan. Benar mungkin adanya namun sebenarnya tidak ada. Keberadaan seolah menjadi kebutuhan layaknya seutas tali tak bersimpul, terlihat jelas namun samar. Begitupun hati kita, kadang menyadari keinginan tapi tak menyadari ketidakinginan. Seperti drum tak berstik atau gitar tak berdawai, hati kita seakan kosong. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pandanganku saat ini menatap nanar, hampa tak mengandung perasaan. Entah harus memikirkan apa atau siapa. Yang terlihat olehku hanyalah gumpalan-gumpalan awan yang berarak di langit biru. Gerakannya lembut dan mengalir, membuatku terbawa ke alam bawah sadarku. Kekosongan yang kian menghampa kini terisi oleh lebih banyak kekosongan. Tak ada yang perlu mengerti tentang perasaanku. Aku pun tak mengerti tentang perasaanku. Yang pasti pusaran ketidak adaan itu semakin menghisapku ke dalam lubang ketenangan. Tempat dimana tak ada lagi yang perlu diresahkan. Sesaat aku merasakan telah menemukan apa yang selama ini kucari. Sesaat kemudian waktu yang sesaat itu menjadi terasa sesat. Apa yang kucari selama ini bukanlah sesuatu yang dapat dicari. Jika aku berhasil mendapatkannya sudah jelas aku belum mendapatkannya. Tak ada yang bisa memastikan. Kenyataan ini seperti rangkaian puzzle. Seharusnya mudah, karena dapat dimulai dari setiap sudut yang terlihat di depan mata. Tapi dunia ini tak bersudut. Harus kumulai darimana? Kekosongan ini….seakan tak berawal dan tak berakhir…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2938948951226760396-1690357124179189289?l=hfmemorial.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/1690357124179189289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/11/kekosongan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/1690357124179189289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/1690357124179189289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/11/kekosongan.html' title='Kekosongan'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396.post-4249209161189842548</id><published>2009-09-09T07:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T07:47:57.105-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memorize'/><title type='text'>Impian Gila</title><content type='html'>Malam hari yang dingin. Aku berada di lapangan rumput yang terbentang luas beratapkan langit berbintang. Saat itu ku duduk termenung sendirian memandang bintang-bintang. Pemandangan indah ini entah kapan dapat kunikmati untuk kedua kalinya. Mungkin tak akan pernah. Suara jangkrik, hembusan angin malam, dan wangi rumput membiusku seakan masalah duniawi tak pernah ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kurebahkan tubuhku di atas tumpukan rumput hijau yang terlihat biru seiring gelapnya malam. Bintang-bintang itu semakin jelas tapi juga semakin tidak jelas. Aku tak mengerti apa yang dapat menjelaskannya. Bintang-bintang itu tak berubah. Sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Tetap bersinar menemani gelapnya malam dan tetap tak terhitung banyaknya. Aku pun tersentak. Semua bintang itu seakan merefleksikan mimpi-mimpiku. Mimpi yang kupercaya ada dan akan kuraih suatu saat nanti. Mimpi yang tak dimiliki oleh siapapun. Mimpi yang akan selalu melahirkan mimpi-mimpi lainnya. Mimpi yang membuat orang lain berfikir bahwa aku sudah gila. Ya, mimpi yang membuatku gila. Tapi mimpi-lah yang membuatku memutuskan untuk terus menjalani hidup. Sekalipun untuk itu harus kubayar dengan kegilaan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Impian yang nyata bukanlah mimpi. Mimpi adalah sesuatu yang tak bisa kita raih sebesar apapun usaha kita meraihnya. Mimpi itu akan selalu ada selama kita masih mempercayainya. Aku juga, mungkin tak akan pernah dapat meraih impianku. Setiap kali aku mendekatinya, impian itu semakin menjauh, semakin tinggi meninggalkanku. Impian bukanlah benda mati. Mereka hidup dalam hati kita. Semakin tumbuh dan berkembang, membesar, terbang tinggi seiring dengan helai demi helai sayap yang kita tanamkan bersama dilema kepercayaan dan kenyataan. Dua hal yang berjalan seperti garis pararel, selalu berdampingan namun tidak pernah bertemu. Impian manusia tak akan pernah berakhir. Aku tahu itu, tapi aku tidak menyesal. Aku hidup dengan mimpi-mimpiku.dan tak akan kubiarkan siapapun atau apapun menghancurkannya. Dan seperti bintang di langit, suatu saat aku akan bersinar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2938948951226760396-4249209161189842548?l=hfmemorial.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/4249209161189842548/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/09/impian-gila.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/4249209161189842548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/4249209161189842548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/09/impian-gila.html' title='Impian Gila'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396.post-8049671586219695023</id><published>2009-09-08T07:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T07:36:48.382-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memorize'/><title type='text'>Aku dan Tulisanku</title><content type='html'>Lagi senang menulis. Bukan sekedar novel picisan yang terlahir dari khayalan yang berada di awang-awang tapi lebih malai dari itu, tulisan-tulisan abstrak yang mengalir dari buah pemikiran yang imatur. Wajar kalau muncul kontroversi dari tiap huruf yang keluar dari aliran sungai perenungan yang tak berhulu. Tapi aku tidak peduli, bisikan malaikat ataupun hasutan setan tidak akan mengubah tiap huruf, frase maupun jeda yang kutulis, yang tertulis, dan yang akan kutulis. Ini seperti membiarkan segenggam harapan tertumpah di atas selembar kertas. Harapan palsu, harapan kosong, dan harapan penuh tekad terpatri dalam setiap tulisanku. Berbaur dengan kekosongan hati yang haus akan rasa lapar atas sajian kejujuran berbalut kesahajaan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kenangan demi kenangan menjadi mesiu di tengah ketenangan yang terlahir dari perdamaian masa kini dan kebimbangan masa depan. Semua yang sudah pernah melihat tulisan tanganku sependapat setidaknya bagi mereka yang jujur bahwa tulisanku jelek. Sebagian lagi tidak berbohong tapi tidak juga berpendapat dan hanya memikirkan perasaanku. Asal tahu saja, aku tidak butuh hal yang merepotkan seperti basa-basi para petinggi, senyum manis rekaan trainer, maupun rasa simpati berlebihan yang tidak beralasan. Make it easy, take it easy. Untuk apa mempersulit kesulitan, bukannya bersyukur atas kesederhanaan dari anugerah kemudahan yang diberikan Tuhan. Hidup ini sederhana sesederhana tulisanku yang mencerminkan betapa dangkalnya pemikiranku. Terlalu dangkal untuk orang jenius yang berpikiran jauh menyelam ke dalam samudera yang luas. Padahal pada hakikatnya samudera itu tidak akan dinamai samudera bila tidak ada genangan air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanyalah permukaan dan tulisanku hanyalah genangan. Lihat apa yang terpantul dari perpaduan diriku dan tulisanku. Jika kau punya cermin yang bersih mengkilat gunakanlah itu untuk berkaca mengagumi keindahan dirimu. Jika kau tidak punya kekuatan untuk menghartakan dirimu berceminlah pada permukaan genangan air yang kotor. Kau akan menemukan dirimu seakan mutiara di tengah kubangan lumpur. Hanya perlu sedikit kesadaran dan lebih sedikit keinginan bahkan hampir tidak ada kemauan. Itu sudah lebih dari cukup untuk membekali diri menjelajah hutan belantara dari tulisan-tulisan antah berantah-ku yang kian abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2938948951226760396-8049671586219695023?l=hfmemorial.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/8049671586219695023/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/09/aku-dan-tulisanku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/8049671586219695023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/8049671586219695023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/09/aku-dan-tulisanku.html' title='Aku dan Tulisanku'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396.post-4481142211425698028</id><published>2009-09-07T08:23:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T08:25:40.893-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memorize'/><title type='text'>Air mata</title><content type='html'>Air mata adalah setetes air dari hati yang tak lebih dari sekedar tumpahan perasaan. Perasaan yang selama ini terpendam dalam lumpur keputusasaan. Keputusasaan yang menyisakan harapan. Dan harapan yang tergerus oleh waktu. Waktu itu, air mata adalah penyejuk di tengah gersangnya hati, pelembut bagi jiwa-jiwa yang membatu.   &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Air mata yang tak sengaja menetes mungkin adalah tanda ketulusan mungkin juga bukan. Bukanlah hal yang sepantasnya untuk membatasi air mata. Air mata tidak memberi jaminan keikhlasan namun menjadi ukuran derasnya permasalahan yang menerpa. Menerpa tidak seperti angin yang menghempaskan sebatang pohon. Pohon yang berdiri kokoh pun suatu saat akan tumbang seiring berjalannya waktu. Waktu yang berlalu seiring jatuhnya air mata adalah waktu yang tak pernah bisa terbeli oleh apapun. Apapun yang ada di dunia ini sebenarnya hanyalah cerminan dari bayangan yang terpantul dari tetesan air mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata tak selamanya menyedihkan dan hujan tak selamanya menyuburkan. Menyuburkan kebun jiwa bersama teriknya permasalahan adalah sebuah kenikmatan yang tak akan pernah terbayangkan. Bayangkan bau rumput, birunya langit, semilir angina, dan rindangnya pepohonan. Pepohonan hati kita, setinggi apapun, tak akan pernah menjangkau birunya langit keikhlasan tanpa disiram oleh air mata. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2938948951226760396-4481142211425698028?l=hfmemorial.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/4481142211425698028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/09/air-mata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/4481142211425698028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/4481142211425698028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/09/air-mata.html' title='Air mata'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396.post-6845133642641553832</id><published>2009-09-02T06:49:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T07:38:01.146-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memorize'/><title type='text'>Topeng</title><content type='html'>Aku benci mengatakannya tapi memang…kau dulu sahabatku. Aku tertawa saat kau tertawa, aku menangis saat kau menangis, bahkan aku sakit saat kau sakit. Kau pun sebaliknya…Saat-saat itu seharusnya menjadi kenangan yang indah, atau setidaknya menjadi masa lalu yang membuatku tersenyum saat mengingatnya. Diriku yang tertutup bertolak belakang dengan dirimu yang sanguinis dan memiliki banyak teman. Kau disenangi oleh banyak orang karena keceriaanmu, kekonyolanmu. Kau dipercaya oleh orang-orang jauh melebihi kepercayaan orang-orang kepadaku. Melalui dirimu lah aku mengenal banyak orang. Orang lain disekelilingku mulai mempercayaiku karena mereka mempercayaimu. Aku yang kaku pun perlahan mulai membuka hatiku untuk sebuah persahabatan. Persahabatan yang kuharap selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku sendirian teman-teman pasti menanyakan dirimu. Tentang kenapa aku tidak bersamamu, kabar tentangmu, dan segala hal tentangmu. Siapapun yang mendengarnya pasti tahu bahwa kau orang yang sangat disenangi. Ketika satu hari saja kau tidak masuk kelas, seisi sekolah seakan mempertanyakan dirimu. Orang-orang akan merasa kehilangan saat kau tak ada dan tak akan merasa kehilangan saat aku tak ada. Aku banyak belajar darimu tentang membuka dirimu, tersenyum, tertawa, menangis. Aku yang dulu tidak pernah tahu bagaimana mengekspresikan kebahagiaan ataupun kesedihan, menangis ataupun tertawa. Kau lah yang mengajarkanku entah bagaimana caranya, aku pun tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi…aku benci untuk menulis semua ini. Seolah dengan tulisan ini aku meninggikanmu atau sebaliknya merendahkanmu. Asal kau tahu, aku bukan menulis tentangmu, aku hanya menulis kejujuran, sesuatu yang kupercaya akan memelihara ku dari kebohongan dan kepalsuan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak akan menuliskan pengkhianatanmu, bagaimana kau mengkhianatiku, atau alasanmu mengkhianatiku. Aku menulis dari sisi ku yang kini sebagai mantan sahabatmu. Bukannya aku manja….aku pun sering dikhianati oleh orang lain. Tapi kali ini berbeda. Pengkhianatanmu bahkan tidak memberiku waktu untuk berfikir tentang memaafkan. Segalanya berjalan begitu cepat, seakan hari yang kelam itu tidak pernah ada. Kalau perbuatanmu masih bisa kutolerir mungkin aku akan merasa sebagian adalah kesalahan ku karena melihat apa yang seharusnya tidak dilihat dan mendengar apa yang seharusnya tidak kudengar. Tapi aku tidak menemukan celah dimana aku dapat menempatkan sebutir toleransi. Semua terjadi begitu saja…kau telah mengambil masa laluku, tidak hanya masa laluku bersamamu tapi juga masa laluku bersama teman2 ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku mencari pembenaran tak ada seorang pun yang membenarkan. Kau selalu mendapat kepercayaan lebih dari orang-orang di sekitarmu bahkan orang –orang di sekelilingku. Seolah aku yang bersalah atas dirimu, aku yang membuatmu murung dan aku yang membuatmu sedih. Aku tidak bisa sepertimu yang dapat menyembunyikan diri di balik topeng. Saat aku merasa tidak senang maka raut muka ku menunjukkan ketidak senanganku. Saat aku sedih aku tidak mampu memaksa bibirku membentuk simpul senyuman seperti yang kau pajang di topengmu. Aku selalu menjadi orang yang kalah, selalu terpojok, sendiri. Kini pandanganku berubah tentangmu. Aku merasa jijik saat kau tersenyum dan membuat lelucon seakan tidak ada apapun yang terjadi. Kau membalut semuanya dengan manis. Aku pun tidak berusaha membongkar rahasiamu, sebuah rahasia yang ku yakin akan mengubah hidupmu selamanya bila dunia tahu. Walaupun kini aku membencimu rupanya aku masih menyisakan sedikit kebaikan untukmu. Namun yang sedikit itu memerlukan pengiorbanan yang tidak sedikit. Menyimpan rahasia ini membuatku seakan menanggung dunia ini di atas bahuku yang kecil. Walaupun aku sudah bukan sahabatmu aku masih rela mengorbankan kepercayaan orang kepadaku demi kepercayaan orang lain padamu, bahkan mengorbankan masa lalu dan sebagian kebahagiaan hidupku untuk menanggung rahasia kecilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setelah lama sekali tidak ada kabar, kau datang padaku. Apalagi? Apalagi yang kau ingin ambil dariku?? Kau ingin minta maaf sambil berurai air mata?? Salah besar kalau kau pikir aku tidak memaafkanmu. Kau pikir kau orang istimewa sehingga aku tidak memaafkanmu? Asal kau tahu, banyak perlakuan tidak adil terhadapku akibat kepiawaianmu melakonkan peran. Dan aku tidak pernah menyalahkan mereka yang terlihat pintar dan bijaksana namun tidak tahu apa-apa itu atas perlakuannya padaku. Kalau aku tidak bisa memaafkan bahkan untuk orang seperti dirimu, tak akan ada bedanya diriku dengan kebanyakan manusia dan tak adakan ada gunanya lagi aku hidup sebab pintu surga akan tertutup bagiku. Kalau kau menanyakan apa yang membuatku merasa lebih baik…aku hanya ingin kau pergi dari kehidupanku, menghilang dari ingatanku…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2938948951226760396-6845133642641553832?l=hfmemorial.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/6845133642641553832/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/09/topeng.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/6845133642641553832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/6845133642641553832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/09/topeng.html' title='Topeng'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396.post-1931975162760413146</id><published>2009-02-17T23:40:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T23:46:30.767-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memorize'/><title type='text'>Tulisan ini Kutulis untuk Diriku</title><content type='html'>Tulisan ini kutulis untuk diriku. Menegurku. Mengingatkanku. Menghentikanku sejenak dari kesibukan duniawi. Aku yang dulu, aku yang sekarang, dan aku yang nanti. Karena sesungguhnya iman itu suatu saat akan lusuh seperti lusuhnya sehelai kain. Hari demi hari berlalu seiring grafik keimanan yang merosot. Hingga tiba di suatu titik. Titik dimana tak ada lagi titik setelahnya. Mungkin akupun suatu saat akan berada di titik itu. Di saat itu hatiku telah membatu, apapun yang kamu sampaikan, baik atau buruk tak lagi berarti buatku. Aku sedang menikmati segala yang dapat dinikmati di dunia ini. Karenanya selantang apapun kalian menyeru, meminta, bahkan memohon, takkan pernah dahi ini menyentuh bumi untuk bersujud pada-Nya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku mungkin teman kalian, senasib seperjuangan, atau paling tidak aku tidak mengusik kalian dalam menyeru pada kebaikan. Hingga suatu saat, segalanya berubah, dengan pemahaman keislaman yang kumiliki aku menentang habis-habisan segala nilai keislaman selayaknya perempuan berjilbab yang mengaku Islam, shalat, puasa, bahkan tahajud, namun menentang diberlakukannya RUU APP. Kalian pikir, mengapa aku berbuat demikian? Atau pertanyaan yang lebih mendasar, apa yang membuat aku berpikir untuk berbuat demikian? Sampai pertanyaan itu hinggap di benak dan terlontar dari mulut kalian, aku sudah memiliki jawaban jauh sebelum muncul pertanyaan. Apakah kalian pernah menasehatiku di saat aku berbuat salah? Apakah kalian pernah mengingatkanku ketika aku khilaf? Mengapa kalian melebih-lebihkan pujian kalian atas kelebihanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagianya diri ini jika diperlakukan secara proporsional, kelebihan membuat diri dihargai, kekurangan membuat orang lain bantu menasehati. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2938948951226760396-1931975162760413146?l=hfmemorial.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/1931975162760413146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/tulisan-ini-kutulis-untuk-diriku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/1931975162760413146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/1931975162760413146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/tulisan-ini-kutulis-untuk-diriku.html' title='Tulisan ini Kutulis untuk Diriku'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396.post-4875202509357168692</id><published>2009-02-17T01:19:00.000-08:00</published><updated>2009-09-08T07:38:31.780-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memorize'/><title type='text'>Secarik cinta</title><content type='html'>Cinta laksana cinta. Tak dapat dijelaskan bukan masalah, namun bermasalah jika dijelaskan. Tak ada yang setuju bahwa cinta itu menyakitkan. Namun kenyataannya demikian. Cinta membutuhkan resiko, bahkan untuk resiko yang terkecil sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Membara di hutan membakar segala. Itukah cinta? Mungkin ya mungkin tidak. Rasanya sulit memisahkan cinta dan pengorbanan. Bahkan pada titik dimana kita terpaksa mengorbankan orang lain. Tak perlu menafikan keegoisan diri untuk dapat tidak memahami cinta. Cinta itu membingungkan dengan segala yang membingungkan. Labirin di dalam labirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun makna cinta, semoga kita tidak menjadi orang yang dibutakan hatinya karena cinta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2938948951226760396-4875202509357168692?l=hfmemorial.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/4875202509357168692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/secarik-cinta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/4875202509357168692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/4875202509357168692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/secarik-cinta.html' title='Secarik cinta'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396.post-1777017692479164193</id><published>2009-02-16T06:22:00.000-08:00</published><updated>2009-09-08T07:38:55.738-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memorize'/><title type='text'>Jiwa</title><content type='html'>Ketika udara dingin berhembus kencang seketika itu juga tubuh kita menggigil. Ketika panas menyengat saat itu juga keringat kita bercucuran. Tubuh kita memiliki kemampuan mengkompensasi setiap masalah yang ada layaknya komputer yang canggih. Namun tidak begitu dengan jiwa kita. Sebagai manusia kita diberi kebebasan dalam menentukan sikap jiwa kita, apapun bentuknya. Tak selalu berupa perbuatan namun hakikatnya bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Dengan mengarungi samudera jiwa, kita sudah berbuat setidaknya untuk sesaat karena sesaat kemudian kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Sesaat itu-lah yang merupakan momen dan tak akan disebut momen jika tidak berharga. Sebuah harga yang pantas untuk kerelaan meluangkan waktu untuk sejenak merenung. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang tahu dan tak akan ada yang pernah tahu sekalipun sering kita merasa serba tahu namun kenyataanya akan selalu ada yang tidak kita ketahui. Yang dapat kita lakukan hanyalah mencari tahu. Walaupun pada akhirnya mungkin pahit, pasti ada saat dimana kepahitan itu menghilang. Sekalipun hasil proses penjiwaan kita benar tidak menjamin akan berujung dengan kebenaran. Banyak hal yang masih menyimpan tanya dan tidak sedikit pertanyaan yang menyimpan banyak hal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat kita akan sampai di tempat dimana tidak ada fondasi untuk bertahan dari deburan ombak kehidupan. Perenungan yang hanya sesaat jadi tak berarti dihadapan permasalahan  yang bahkan mampu mencakar langit. Jalan keluar yang diambil justru menjadi awal dari jalan buntu. Memang terasa tidak adil. Disaat kita menemukan jalan keluar bukan berarti kita tidak akan menemukan jalan buntu. Namun di saat kita berhadapan dengan jalan buntu kita tidak akan pernah menemukan jalan keluar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2938948951226760396-1777017692479164193?l=hfmemorial.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/1777017692479164193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/jiwa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/1777017692479164193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/1777017692479164193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/jiwa.html' title='Jiwa'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396.post-1989586555150934707</id><published>2009-02-14T05:32:00.000-08:00</published><updated>2009-02-14T05:39:49.086-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memorize'/><title type='text'>Suara</title><content type='html'>Merindukan kebersamaan dan keramaian adalah hal yang wajar, tapi mengapa menjadi tidak wajar jika seseorang membutuhkan kesendirian? Setiap hari kita dijejali dengan berbagai suara, entah tawa, tangis, canda,suka, duka. Bermacam aliran musik masuk ke telinga melalui serangkaian proses hingga kemudian dicerna di otak. Suara mobil, kereta, bus, bajaj, hingga suara yang tidak penting pernah kita dengar bahkan sudah menjadi santapan sehari-hari. Sehingga wajar jika kita terbiasa dan menganggap wajar dengan semua kebisingan itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Kita sudah lupa bunyi suara jangkrik di malam hari karena malam hari kita penuh dentuman musik penuntun tidur. Kita sudah tidak bisa lagi mendengar suara jam yang berbunyi setiap detiknya. Kita menjadi tak menyadari detik-detik hidup kita yang berlalu sehingga semua berlalu begitu saja seperti angin lalu. Lalu suara adzan dari masjid dekat rumahpun tak digubris kalaupun ada stasiun televisi yang menayangkan adzan, langsung dimatikan atau paling tidak dikecilkan volume-nya. Secara tidak sadar kita telah menafikkan panggilan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suara memang perlu kita dengar tapi bukan untuk sesuatu yang dipaksakan untuk menjadi perlu. Tak semua keperluan kita itu penting. Kita terlalu legowo untuk menerima apa saja yang kita dengar. Gosip yang kita dengar, apapun namanya hanya akan membebani pikiran kita dengan hal yang tidak perlu. Percayalah, suatu saat hati kita akan berontak, menginginkan kesunyian yang selama ini tertimbun puing-puing keributan. Di tengah malam yang dingin hati kecil kita menginginkan kesendirian. Keberduaan lebih tepatnya, karena kita tak pernah sendiri, Allah bersama kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang tak bisa disentuh dalam kebisingan dapat terasa di tengah kesunyian. Suara hati yang biasanya mengalah menguak kejujuran kita. Kita jadi menyadari segala perbuatan yang seharian telah kita lakukan, baik dan buruk. Menjadi timbangan kita untuk melihat seberapa besar dosa yang kita tanggung yang pastinya akan ditagih suatu saat kelak. Kita jadi tak malu mengucurkan air mata bahkan itu sudah sewajarnya, mengingat besarnya pengorbanan Rasulullah terhadap umatnya. Bahkan hingga hela nafas terakhirnya beliau masih memikirkan umatnya. Dan sekarang beliau ditinggalkan umatnya sendiri. Biarkan air mata membasahi kesunyian kita, menjernihkan pandangan kita, lalu mengubah kita. Mungkin kelak momen kesunyian inilah yang membawa kita pada kebersamaan sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2938948951226760396-1989586555150934707?l=hfmemorial.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/1989586555150934707/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/suara.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/1989586555150934707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/1989586555150934707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/suara.html' title='Suara'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396.post-4842080655875625343</id><published>2009-02-12T04:48:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T04:59:08.517-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memorize'/><title type='text'>Entah</title><content type='html'>Entah kenapa saat matahari kian tenggelam begitu pula diriku, tenggelam dalam kesendirian. Berpikir dan tak berhenti berpikir, dunia ini tak habis pikir. Tiap peristiwa terus melintas dalam pikiranku, yg lalu dan yg pasti akan kulalui. Sekian lama hidup sekian banyak pula kematian yg kusaksikan. Teman, sahabat, saudara, nenek, guru, lalu siapa lagi? Keberadaannya telah mengisi relung hati namun kepergiannya tak terhenti. Kematian mereka tak seharusnya karena mereka masih dibutuhkan. Akulah yg layak keluar dari panggung ini, bukan mereka. Mereka terlalu baik untuk diperlakukan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar, aku hanyalah satu dari segelintir orang yg tersisa, hakikatnya bukanlah sebagai orang hidup. Suatu saat akupun akan mengalami hal serupa, namun akhirnya belum tentu sama karena aku tak sebaik mereka. Pahalaku tak lebih banyak, dosakupun tak lebih sedikit. Jika berpikir akan memasuki neraka, itu bukanlah pikiran yg salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan bersalah menghantuiku, setiap detak jantungku seakan disertai dosa dan kesalahan. Sedikit demi sedikit darahku kian pekat, hatikupun mengeras. Setiap hari yg kulakukan hanya untuk kesenangan hingga tak kusadari kesenanganku telah merenggut kesenangan orang lain. Hari yg bergulir hanya menjadi episode keegoisanku yg kian menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mungkin tak pandai  agama, tapi aku tahu konsekuensi dari segala perbuatanku. Tapi aku tak mau tahu konsekuensi dari segala perbuatanku. Menutup mata seolah membuatku terlepas dari jeratan dosa. Tapi itu tak berlangsung lama, kini bahkan mata hatiku telah tertutup. Hanya celah kecil yg tersisa. Secercah cahaya, itu sudah cukup. Aku tak mau berada dalam ruang gelap ini selamanya. Aku ingin merasakan, seperti yang orang lain rasakan. Aku ingin tersenyum, senyuman yg tulus dari dasar hati, walaupun hanya sekali. Aku ingin mengulang waktu dan mengoreksi semua kesalahanku. Mencoba agar segalanya lebih baik. Tapi adakah yg menjamin aku tidak akan mengulang kesalahan yg sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angan-angan itu hanyalah pelarian, bukan sesuatu yg nyata. Aku bahkan tak menyadari kehadirannya. Semua terjadi begitu saja.Nyatanya, tanganku kini tidak berbeda dengan tangan pembunuh berdarah dingin, bahkan mungkin lebih buruk. Mataku tak lebih baik dari seorang buta. Ucapanku tak lebih dari ucapan pengobral janji. Pikiranku bahkan tidak lebih waras dari orang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku berada di persimpangan jalan. Di sinilah segalanya ditentukan karena disini pula semuanya berasal. Akulah yg memulai segala keburukan ini dan akulah yg harus bertanggung jawab. Kesedihan dan penyesalan yg kurasakan bukan sekedar kuntum bunga yg harumnya kian pudar. Sungguh,aku merasa nyaman dengan air mata ini. Izinkan aku menikmatinya barang sebentar, karena disaat seperti inilah pikiranku menjadi jernih. Ya Allah, mungkin aku tak pernah bisa mencapai surga-Mu, tapi biarkan aku mencoba.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2938948951226760396-4842080655875625343?l=hfmemorial.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/4842080655875625343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/entah.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/4842080655875625343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/4842080655875625343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/entah.html' title='Entah'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2938948951226760396.post-2864175629965518184</id><published>2009-02-08T05:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T05:02:40.483-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memorize'/><title type='text'>Manusia di balik manusia</title><content type='html'>Api yang tak membakar maupun air yang tak membasahi, merupakan renungan yang tak perlu direnungi dengan hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hela nafas tak bisa memberi jawaban atas segala persoalan namun setidaknya memberi sugesti atas rasa ketidakpuasan terhadap rasa lelah yang melekat dan kian melekat. Usaha mencari jawaban mungkin telah menguras tenaga dan fikiran kita namun itu semua belum cukup untuk menambal penyesalan atas setumpuk persoalan yang tak kunjung usai. Semua permasalahan selalu menghantui perasaan jauh melebihi apa yang ada dalam pikiran manusia. Pergantian hari hanyalah masalah akumulasi masalah yang suatu saat harus kita hadapi, mau tidak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan belum semua dilaksanakan. Kemungkinan terburuk belum terkuak. Bertolak dari segala kelebihan selalu diiringi kekurangan tanpa berusaha mengurangi nilai-nilai kelebihan. Setiap yang berjalan suatu saat akan berhenti berjalan namun bukan masalah jalan itu yang menjadi masalah utama, melainkan siapa yang berjalan dan dengan siapa ia berjalan. Manusia sering berfikir dirinyalah yang paling tidak buruk tanpa menyadari apa yang harus disadari. Ketika manusia membaca sesuatu yang tak ia mengerti ia akan bersikap seolah-olah mengerti. Kesombongan melekat hingga lapisan kulit terdalam, tidak hanya menjadi pakaian. Akhlak yang baik rupanya menjadikan manusia merasa menjadi manusia namun hakikatnya memang ia manusia dengan ataupun tanpa kemunafikan yang menjadikannya kehilangan perasaan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan ini merupakan gerak yang tidak bergerak semangat yang tidak semangat  dibalik muka dua yang diselimuti kata-kata manis. Membicarakan saudaranya dengan berharap menemukan solusi memang baik, membahas rencana yang matang untuk melaksanakan acara memang baik, namun akan lebih baik jika semua itu benar-benar direalisasikan tidak hanya bagian superficialnya saja. A adalah sebuah huruf, hanya orang yang benar-benar paham bahwa A adalah angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh kemunafikan telah menyelimuti manusia. Ukhuwah islamiyah yang selama ini diusung hanyalah spirit tanpa semangat, moto tanpa realisasi, senyum tanpa keikhlasan. Sungguh manusia telah menanggalkan kepolosannya. Dengan tulisan ini penulis tidak berharap pergerakan ini menjadi lebih baik karena penulis tidak melihat adanya harapan yang ada hanya usaha memperbaiki kesalahan dan kekurangan tanpa menuntut harapan. Sekalipun diperlukan sebuah pengharapan, itu hanyalah harapan kosong sebab tak ada harapan tanpa usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh manusia telah kehilangan akal sehatnya. Kita benar-benar kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam diri kita. Yang tak tergantikan oleh banyaknya pujian atas amanah yang diemban. Yang selalu dirindukan setiap muslim yang sadar akan keangkuhan dirinya. Kesedihan adalah rasa senang berlebih karena mengetahui apa yang tak sepantasnya diketahui manusia pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh manusia telah  lupa dengan kelupaannya. Menjadi terbaik adalah berbahaya. Berbahaya karena bahayanya yang tidak membahayakan bagi yang terbaik yang sebenarnya hanyalah perasaan yang terbaik yang merasa tidak dalam bahaya. Hidup ini rumit dengan sekelumit kesederhanaan yang diperrumit dengan rasa dan perasaan yang membebani jiwa manusia. Namun bebankah itu semua? Sekedar mengempatikan diri dan hati hingga mempersulit keputusan bukanlah pilihan yang terbaik namun tidak harus menjadi yang terbaik untuk menjadi yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ketika manusia membaca sesuatu yang tak ia mengerti ia akan bersikap seolah-olah mengerti. Kesombongan melekat hingga lapisan kulit terdalam, tidak hanya menjadi pakaian. Akhlak yang baik rupanya menjadikan manusia merasa menjadi manusia namun hakikatnya memang ia manusia dengan ataupun tanpa kemunafikan yang menjadikannya kehilangan perasaan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan ini merupakan gerak yang tidak bergerak semangat yang tidak semangat  dibalik muka dua yang diselimuti kata-kata manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh manusia merasa tahu pernah membaca sesuatu yang sama sebelumnya dan ia mengabaikannya karena keangkuhan dan sifat lupa akan kelupaannya.&lt;br /&gt;Pergerakan ini hanyalah sekumpulan manusia yang tak pernah terlepas dari kebodohan manusia. Seandainya aku dilahirkan tidak sebagai manusia, begitu fikir manusia. Bersyukur merupakan menu utama yang selalu ia santap lalu ia eksresikan dalam bentuk yang amat kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh manusia telah melupakan apa yang semestinya ia lupakan. Mengingat apa yang sebenarnya tidak penting untuk diingat. Lima kali lima adalah dua puluh lima, sesuatu yang menurut manusia takkan berubah bukan berarti tak bisa diubah. Ini hanyalah masalah persepsi yang terbentuk sekian lama. Mengapa kita tidak menyebut dua puluh lima dengan sepuluh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh manusia berlumuran dosa yang tak hanya disebabkan dirinya namun juga keegoisannya. Semua menginginkan pendapatnya diterima namun tak melihat sisi negative pendapat tersebut dan tak menerima penilaian objektif temannya. Dosa yang tidak seharusnya menjadi dosa telah menjadikan manusia makhluk yang bersimbah dosa.&lt;br /&gt;Peluru, perisai, pena, penyakit, papan, semua itu tidak berhubungan, begitu fikir manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh manusia tiada tahu rasa dan sensasi ketika mendapat ujian dan pujian. Tak bisa menyikapi dengan sepantasnya merupakan hal yang buruk dari segala kebodohan manusia. Sadar maupun tidak kita telah membunuh rasa dengan dalih menumbuhkan rasa. Rasa kemunafikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh manusia telah kehilangan nikmatnya bersedih dan menikmati kesedihan orang lain. Sungguh menyedihkan mengingat akupun manusia……&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2938948951226760396-2864175629965518184?l=hfmemorial.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hfmemorial.blogspot.com/feeds/2864175629965518184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/manusia-di-balik-manusia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/2864175629965518184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2938948951226760396/posts/default/2864175629965518184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hfmemorial.blogspot.com/2009/02/manusia-di-balik-manusia.html' title='Manusia di balik manusia'/><author><name>Hafiz Fizalia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08539112297898664405</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-tCCmUagYzzg/Tk9C_zu4pHI/AAAAAAAAAd0/2uFli39FSbQ/s220/mangaka-mode-on.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
